Facebook Menjadi Ajang Pelacuran ABG




Situs jejaring sosial, Facebook mulai beralih fungsi, dari sekedar situs pertemanan menjadi situs untuk menjual diri dan menawarkan seks. Poltabes Surabaya berhasil mengungkap prostitusi anak baru gede (ABG) lewat Facebook pada tanggal 31 Januari 2010. Polisi berhasil menangkap dua tersangka yang diduga mucikari yang berperan sebagai perantara pelacuran ABG. Hasil penyelidikan terungkap, ada 25 ABG yang menjadi pelaku prostitusi ini. Lima diantaranya telah diperiksa pihak kepolisian dan menurut pengakuan mereka, praktek prostitusi via Facebook ini sudah berlangsung sekitar dua bulan lamanya.
Mengapa fenomena pelacuran via Facebook ini bisa terjadi? Apa yang melatarbelakangi kejadian ini? Mengapa para ABG secara sadar menyediakan diri untuk pelayanan seks komersil? Menurut analisa penulis ada beberapa faktor yang mendorong munculnya fenomena di atas. Pertama, fenomena di atas merupakan salah satu sisi gelap dari globalisasi, komersialisasi dan modernisasi. Dimana situasi dan tuntutan hidup semakin tinggi, dan harga diri dinilai berdasarkan kepemilikan materi yang mencirikan modernisasi seperti handphone, laptop, fashion bermerk, dan barang-barang mewah lainnya.
Setiap hari, para ABG ini diterpa tayangan-tayangan iklan baik di media massa maupun TV, disuguhi tontonan sinetron dan film yang menampilkan kehidupan serba mewah, sehingga secara sadar atau pun tidak, mereka meniru dan menginternalisasi nilai-nilai materialisme ini dalam cara pandang hidup mereka. Bagi mereka, satu-satunya cara untuk hidup bahagia dan mendapatkan penghargaan dari sebayanya adalah melalui kepemilikan materi yang serba mewah dan modern.
Kedua, ABG merupakan masa pra-remaja dimana perkembangan fisik, emosi, dan sosialnya masih labil. Mereka ini sedang melewati masa transisi, dimana pembentukan identitas diri sedang terbentuk. Dengan tujuan mencapai sebuah identitas diri yang solid dengan didasarkan pada sejauhmana teman-teman sebayanya menghargainya maka mereka bisa melakukan apa saja untuk memenuhi identitas dirinya tersebut. Salah satu cara yang paling nyata adalah dengan melengkapi diri mereka dengan berbagai pernak-pernik benda yang mencirikan modernisasi seperti handphone tercanggih, atau fashion bermerk untuk melejitkan identitas diri mereka di kalangan teman sebayanya.
Dengan menunjukkan bahwa mereka memiliki semua pernak-pernik modernisasi ini, maka harga diri mereka pun semakin tinggi di mata teman sebayanya. Ketika orang tua mereka tidak mampu memenuhi semua kebutuhan identitas modern ini, maka mereka akan mencari cara lainnya yang bisa memenuhi kebutuhan akan identitas mereka ini.
Dari sisi emosi, para ABG ini mudah sekali terpengaruh oleh situasi lingkungan teman sebayanya. Mereka bisa bertindak nekad, tanpa memikirkan resiko dari tindakannya. Mereka juga ingin memperoleh segala sesuatunya secara cepat dan serba instan, kalau bisa tidak perlu bersusah payah tetapi mampu mendapatkan apa yang diinginkannya dengan mudah. Situasi emosi seperti inilah yang memicu mereka terjerumus dalam pelacuran dengan menawarkan seks untuk mendapatkan uang dengan mudah. Dengan uang yang diperoleh maka mereka bisa mengapai identitas dirinya yang serba mewah, modern, dan fashionable.
Dari sisi sosial, mereka lebih mengarah pada kelompok sebayanya, mengikuti trend di kelompok sebayanya, bahkan mereka lebih memilih cara hidup teman sebayanya dibandingkan cara hidup yang diajarkan dalam keluarganya. Beberapa ABG yang terlibat kasus pelacuran ini, menurut hasil penyidikan Polisi mengungkapkan bahwa mereka mengenal dan terlibat dalam praktek pelacuran via facebook ini melalui teman dekatnya yang juga ikut menjajakan seks. Mereka lebih memperhatikan dan meyakini apa yang dikatakan teman sebayanya, dalam kondisi tekanan teman sebaya ini mereka tidak mampu secara tegas menolak pengaruh negatif teman sebayanya (peer group pressure).
Faktor ketiga, gagalnya internalisasi nilai-nilai luhur dan agama dalam keluarga yang menyebabkan terbentuknya kepribadian bebas-nilai dan mengambang. Ketika mereka telah berfokus pada lingkungan sebayanya, maka nilai-nilai yang ditawarkan oleh lingkungan sebaya dan budaya global menjadi sumber utama dari proses internalisasi nilai ini. Celakanya, ketika mereka masuk dalam lingkungan sebaya yang lebih mementingkan nilai-nilai hedonism- materialism yang serba instan, maka nilai-nilai itulah yang meresap dan menjadi cara pandang hidup mereka.
Untuk itu internalisasi nilai-nilai luhur dan agama ini menjadi sangat penting dalam membentuk kepribadian yang kuat dan berprinsif luhur, sehingga mereka tidak mudah terjebak dalam cara hidup yang salah. Internalisasi nilai ini juga sangat penting dalam merubah cara pandang ABG dari pengaruh nilai-nilai serba instan dan mementingkan aspek materi. Nilai-nilai spiritual perlu juga dibentuk dalam identitas diri ABG, sehingga mereka menempatkan nilai spiritual sebagai dasar dari penghargaan identitas dirinya. Sebagai contoh mereka lebih meyakini bahwa dengan bertindak jujur maka identitas dirinya menjadi lebih berharga dan penting, dan untuk itu identitas diri tidak didasarkan pada kepemilikan materi semata.
Inilah beberapa faktor yang menurut penulis menjadi penyebab dari munculnya fenomena pelacuran ABG di atas. Remaja mudah sekali terjerumus dalam prostitusi melalui berbagai media yang ada, baik itu melalui Facebook, chating, email atau pun via handphone. Facebook hanyalah salah satu media online yang digunakan ABG untuk melancarkan praktek prostitusinya. Jadi mungkin anda semua pernah menemukan salah satu dari ABG ini yang menawarkan seks di Facebook. Semoga jadi renungan kita semua.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: