Orbituari: Mengenang Amy Winehouse

type=’html’>

Setelah Kurt Cobain, Jimi Hendrix, Janis Joplin dan Jim Morrison, dunia musik kembali digemparkan dengan kematian salah satu musisi berbakat, Amy Winehouse, di usia muda, di tengah karirnya yang menanjak. Sayangnya, bakat luar biasa penyanyi asal Inggris ini harus terhenti di usia 27 tahun dan tertutupi oleh kontroversi yang ditimbulkannya.

Hanya dalam 27 tahun, Amy Winehouse sudah bisa memberikan warisan serta inspirasi untuk para penyanyi soul muda asal Inggris. Tanpa Amy, bisa dibilang takkan ada Adele, Duffy, atau Jessie J. Bahkan Amy pun menjadi inspirasi bagi penyanyi hit di seluruh dunia, Lady GaGa.

Yang menyedihkan, sebagus apapun bakat yang dimiliki Amy, penyanyi ini akan sulit diingat karenanya, tenggelam di antara cerita-cerita kontroversinya tentang ketergantungan alkohol dan narkoba. Apalagi, setelah hidupnya berakhir dengan tragis, yang diwarnai dengan kebiasaan dan ketergantungan alkohol dan narkoba yang ditunjukkannya beberapa hari menjelang kepergiannya. Karena inilah, layak jika Amy mengikuti jejak beberapa musisi idolanya, yang meninggal di usia 27 tahun.

Amy dilahirkan di North London pada tahun 1983 sebagai anak kedua dari seorang supir taksi, Mitch dan istrinya Janis, yang adalah seorang apoteker. Orang tuanya berpisah ketika Amy masih berusia 9 tahun, yang membuat dirinya dan kakaknya tinggal dengan ibunya di Southgate, North London, yang hanya berjarak beberapa menit dari pusat rehabilitasi The Priory, yang dikunjunginya beberapa saat sebelum meninggal.

“Amy selalu semaunya sendiri. Tapi tidak berarti negatif, hanya berbeda…” ungkap sang ayah pada Rolling Stone di tahun 2007 silam.

Perilakunya yang memberontak sudah ditunjukkan Amy mulai dari usia 12 tahun. Kala itu, Amy bersekolah di Sylvia Young Theatre School, tapi tak lama akhirnya dikeluarkan karena menindik hidungnya. Di usia 16 tahun, Amy bersekolah di Brit School dan dengan suara khas soulnya, yang dideskripsikan sebagai suara yang ‘dalam, penuh, kompleks, tapi juga segar dan rapuh secara bersamaan, mendapatkan kontrak dengan Island Records pimpinan Simon Fuller.

Amy Winehouse di Puncak Karirnya @ dailymail

Di tahun 2003, Amy meluncurkan album pertamanya, Frank, yang mendapat sambutan meriah. Beberapa singlenya, seperti Stronger Than Me, yang bercerita tentang seorang kekasih yang lemah dan feminim, juga F**k Me Pumps, yang menceritakan seorang wanita matre yang menyedihkan, membuat Amy memenangkan Ivor Novello award, sebuah penghargaan penulisan lagu, dua nominasi Brit dan membuatnya sebagai calon penerima Mercury Music Prize.

Di tahun yang sama, Amy juga bertemu dengan seorang pria yang bisa jadi membawa pengaruh terbesar dalam kehancuran hidupnya dan kehidupan asmaranya. Adalah Blake Fielder-Civil, seorang pria yang ditemuinya di sebuah bar, yang tak lama menjadi tato yang dibubuhkan di atas jantung Amy.

Hubungan keduanya diwarnai putus nyambung, kekerasan, dan mabuk-mabukan. Dalam satu foto di tahun 2007, Amy terlihat memeluk Blake dengan memar di wajah dan darah di sepatunya. Saat itu, Blake, yang merangkul Amy dengan mesra, juga terlihat dengan wajah penuh luka cakaran.

Pada 2006, setelah tiga tahun bersama Blake, penurunan berat badan yang drastis, gaya rambut menjulang yang semakin berantakan, dan masalah alkohol dan narkoba yang tak ada habisnya, Amy meluncurkan album keduanya, Back To Black, yang membuatnya menjadi bintang di seluruh dunia.

Album dengan nada soul dan jazz dengan lirik obsesi dan emosi romantis ini dirilis di AS setahun setelahnya dan membuat Amy memenangkan lima Piala Grammy sekaligus, termasuk Song dan Record of the Year untuk lagunya yang berjudul Rehab.

“Aku sebenarnya memang pernah menjalani perawatan di rehab, hanya selama 15 menit. Aku masuk dan bilang ‘Hello’, menjelaskan aku mabuk karena sedang jatuh cinta dan menghancurkan hubungan kasih kami, dan langsung keluar,” jelas Amy pada The Sun saat itu. Sejak saat itu, penampilan Amy selalu mengagumkan, walau sering diwarnai dengan dirinya yang mabuk berat di atas panggung.

Sayangnya, kehidupan personalnya mulai menutupi karirnya. Dia dikenal dengan eating disorder yang dideritanya, ditambah dengan depresi akut yang dialaminya, yang diperparah dengan penolakannya terhadap penyembuhan. Setelahnya, hidup Amy dipenuhi dengan pembatalan konser, minum-minum, pesta narkoba.

Amy juga dikritik karena videonya yang sedang bermain dengan anak tikus, juga beberapa nyanyian kasarnya atas lagu-lagu anak-anak. Walau sudah meminta maaf, tapi Amy sampai membuat sang manajer putus asa menjaga karirnya. Para fans pun mulai lelah menunggu album Amy selanjutnya yang sudah lama dijanjikan.

Amy sempat bermasalah dengan pihak berwajib di tahun 2008, termasuk ketika dirinya menampar seorang pria ketika mengunjungi sebuah bar. Di tahun yang sama, Amy juga sempat diperiksa polisi karena video dirinya yang sedang merokok ganja dan mengkonsumsi kokain.

Amy Winehouse – Blake, kontroversi memar dan luka cakaran @ dailymail

“Aku adalah seorang musisi, bukan model. Semakin aku merasa khawatir, semakin banyak aku minum. Semakin aku merasa khawatir, rambutku harus semakin tinggi,” ujar Amy saat itu. Tak lama, setelah putus dengan Blake, berpacaran dengan Alex Claire, dan kembali pada Blake, Amy akhirnya menikah dengan Blake di Miami. “Aku tahu aku berbakat, tapi aku di sini bukan untuk menyanyi. Aku di sini untuk menjadi istri dan ibu dan mengurus keluargaku,” jelas Amy setelah menikah.

Hubungan ‘baru’ dengan Blake inipun tak membuat hidupnya lebih baik. Amy sering diberitakan membatalkan tur bahkan diopname karena overdosis narkoba. Amy dan Blake juga sempat menggegerkan media ketika Blake mengaku hanya bisa memeluk Amy yang sekarat setelah tiga hari non-stop berpesta narkoba dan alkohol.

Walau sudah berada ‘di ujung kematian’, Amy terselamatkan dan bisa pulih. Setelahnya, Amy juga beberapa kali dilarikan ke rumah sakit karena sering pingsan dan jatuh di rumahnya. Amy juga menderita emphysema, sebuah penyakit paru-paru yang disebabkan karena terlalu banyak merokok dan menghisap ganja.

“Kurasa mereka berdua harus mendapat bantuan medis, sebelum salah satu, atau bahkan kedua-duanya mati,” ujar ibu Blake saat itu.

Blake juga sempat dipenjara karena penyerangan seorang manajer pub. Walau Amy tampak supportif dan mencintainya setengah hati, ditengarai dirinya berselingkuh ketika Blake berada di balik jeruji besi.

Di tahun 2010, Amy pernah dinyatakan bersalah karena menyerang seorang manajer teater yang menyuruhnya pergi dari acara keluarga di hari Natal karena terlalu mabuk. Terakhir, Amy sempat diprotes dan diteriaki seluruh penonton di Serbia karena tampil sambil mabuk di Serbia. Band pengiringnya pun harus mengatasi absennya Amy dari atas panggung, serta dirinya yang hanya menggumam ketika menyanyi.

Setelah konser mengerikan di Serbia ini, Amy pun menjalani perawatan di pusat rehabilitasi di The Priory pada bulan Mei, yang diharapkan dapat membantunya ‘kembali ke jalur yang benar’. Sayangnya, hanya berselang satu bulan, Amy pun kabur dari pusat rehab ini.

Amy memutuskan untuk membatalkan semua turnya dan dilaporkan mengalami depresi akut di rumahnya di London, yang berujung pada kematiannya yang tragis. May you rest in the utmost peace now, girl!

sumber

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: