Archive for the ‘Kisah’ Category

Kisah Perwira Kesayangan Soeharto

type=’html’>

Hari Selasa, pengujung tahun 1966. Penjara Militer Cimahi, Bandung, Jawa Barat. Dua pria berhadapan. Yang satu bertubuh gempal, potongan cepak berusia 39 tahun. Satunya bertubuh kurus, usia 52 tahun. Mereka adalah Letnan Kolonel Untung Samsuri dan Soebandrio, Menteri Luar Negeri kabinet Soekarno. Suara Untung bergetar. “Pak Ban, selamat tinggal. Jangan sedih,” kata Untung kepada Soebandrio.
Itulah perkataan Untung sesaat sebelum dijemput petugas seperti ditulis Soebandrio dalam bukuKesaksianku tentang G30S. Dalam bukunya, Soebandrio menceritakan, selama di penjara, Untung yakin dirinya tidak bakal dieksekusi. Untung mengaku G-30-S atas setahu Panglima Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat Mayor Jenderal Soeharto.
Keyakinan Untung bahwa ia bakal diselamatkan Soeharto adalah salah satu “misteri” tragedi September-Oktober. Kisah pembunuhan para jenderal pada 1965 adalah peristiwa yang tak habis-habisnya dikupas. Salah satu yang jarang diulas adalah spekulasi kedekatan Untung dengan Soeharto.
Memperingati tragedi September kali ini, Koran Tempo bermaksud menurunkan edisi khusus yang menguak kehidupan Letkol Untung. Tak banyak informasi tentang tokoh ini, bahkan dari sejarawan “Data tentang Untung sangat minim, bahkan riwayat hidupnya,” kata sejarawan Asvi Warman Adam.
***
Tempo berhasil menemui saksi hidup yang mengenal Letkol Untung. Salah satu saksi adalah Letkol CPM (Purnawirawan) Suhardi. Umurnya sudah 83 tahun. Ia adalah sahabat masa kecil Untung di Solo dan bekas anggota Tjakrabirawa. Untung tinggal di Solo sejak umur 10 tahun. Sebelumnya, ia tinggal di Kebumen. Di Solo, ia hidup di rumah pamannya, Samsuri. Samsuri dan istrinya bekerja di pabrik batik Sawo, namun tiap hari membantu kerja di rumah Ibu Wergoe Prajoko, seorang priayi keturunan trah Kasunan, yang tinggal di daerah Keparen, Solo. Wergoe adalah orang tua Suhardi.
“Dia memanggil ibu saya bude dan memanggil saya Gus Hardi,” ujar Suhardi. Suhardi, yang setahun lebih muda dari Untung, memanggil Untung: si Kus. Nama asli Untung adalah Kusman. Suhardi ingat, Untung kecil sering menginap di rumahnya.
Tinggi Untung kurang dari 165 sentimeter, tapi badannya gempal. “Potongannya seperti preman. Orang-orang Cina yang membuka praktek-praktek perawatan gigi di daerah saya takut semua kepadanya,” kata Suhardi tertawa. Menurut Suhardi, Untung sejak kecil selalu serius, tak pernah tersenyum. Suhardi ingat, pada 1943, saat berumur 18 tahun, Untung masuk Heiho. “Saya yang mengantarkanUntung ke kantor Heiho di perempatan Nonongan yang ke arah Sriwedari.”
Setelah Jepang kalah, menurut Suhardi, Untung masuk Batalion Sudigdo, yang markasnya berada di Wonogiri. “Batalion ini sangat terkenal di daerah Boyolali. Ini satu-satunya batalion yang ikut PKI (Partai Komunis Indonesia),” kata Suhardi. Menurut Suhardi, batalion ini lalu terlibat gerakan Madiun sehingga dicari-cari oleh Gatot Subroto.
Clash yang terjadi pada 1948 antara Republik dan Belanda membuat pengejaran terhadap batalion-batalion kiri terhenti. Banyak anggota batalion kiri bisa bebas. Suhardi tahu Untung kemudian balik ke Solo. “Untung kemudian masuk Korem Surakarta,” katanya. Saat itu, menurut Suhardi, Komandan Korem Surakarta adalah Soeharto. Soeharto sebelumnya adalah Komandan Resimen Infanteri 14 di Semarang. “Mungkin perkenalan awal Untung dan Soeharto di situ,” kata Suhardi.
Keterangan Suhardi menguatkan banyak tinjauan para analisis. Seperti kita ketahui, Soeharto kemudian naik menggantikan Gatot Subroto menjadi Panglima Divisi Diponegoro. Untung lalu pindah ke Divisi Diponegoro, Semarang. Banyak pengamat melihat, kedekatan Soeharto dengan Untung bermula di Divisi Diponegoro ini. Keterangan Suhardi menambahkan kemungkinan perkenalan mereka sejak di Solo.
Hubungan Soeharto-Untung terjalin lagi saat Soeharto menjabat Panglima Kostrad mengepalai operasi pembebasan Irian Barat, 14 Agustus 1962. Untung terlibat dalam operasi yang diberi nama Operasi Mandala itu. Saat itu Untung adalah anggota Batalion 454 Kodam Diponegoro, yang lebih dikenal dengan Banteng Raiders.
Di Irian, Untung memimpin kelompok kecil pasukan yang bertempur di hutan belantara Kaimana. Sebelum Operasi Mandala, Untung telah berpengalaman di bawah pimpinan Jenderal Ahmad Yani. Ia terlibat operasi penumpasan pemberontakan PRRI atau Permesta di Bukit Gombak, Batusangkar, Sumatera Barat, pada 1958. Di Irian, Untung menunjukkan kelasnya.
Bersama Benny Moerdani, ia mendapatkan penghargaan Bintang Sakti dari Presiden Soekarno. Dalam sejarah Indonesia, hanya beberapa perwira yang mendapatkan penghargaan ini. Bahkan Soeharto, selaku panglima saat itu, hanya memperoleh Bintang Dharma, setingkat di bawah Bintang Sakti.
“Kedua prestasi inilah yang menyebabkan Untung menjadi anak kesayangan Yani dan Soeharto,” kata Kolonel Purnawirawan Maulwi Saelan, mantan Wakil Komandan Tjakrabirawa, atasan Untung di Tjakrabirawa, kepada Tempo.
Untung masuk menjadi anggota Tjakrabirawa pada pertengahan 1964. Dua kompi Banteng Raiders saat itu dipilih menjadi anggota Tjakrabirawa. Jabatannya sudah letnan kolonel saat itu. Anggota Tjakrabirawa dipilih melalui seleksi ketat. Pangkostrad, yang kala itu dijabat Soeharto, yang merekomendasikan batalion mana saja yang diambil menjadi Tjakrabirawa. “Adalah menarik mengapa Soeharto merekomendasikan dua kompi Batalion Banteng Raiders masuk Tjakrabirawa,” kata Suhardi. Sebab, menurut Suhardi, siapa pun yang bertugas di Jawa Tengah mengetahui banyak anggota Raiders saat itu yang eks gerakan Madiun 1948.
“Pasti Soeharto tahu itu eks PKI Madiun.” Di Tjakrabirawa, Untung menjabat Komandan Batalion I Kawal Kehormatan Resimen Tjakrabirawa. Batalion ini berada di ring III pengamanan presiden dan tidak langsung berhubungan dengan presiden. Maulwi, atasan Untung, mengaku tidak banyak mengenal sosok Untung. Untung, menurut dia, sosok yang tidak mudah bergaul dan pendiam.
Suhardi masuk Tjakrabirawa sebagai anggota Detasemen Pengawal Khusus. Pangkatnya lebih rendah dibanding Untung. Ia letnan dua. Pernah sekali waktu mereka bertemu, ia harus menghormat kepada Untung. Suhardi ingat Untung menatapnya. Untung lalu mengucap, “Gus, kamu ada di sini….” Menurut Maulwi, kedekatan Soeharto dengan Untung sudah santer tersiar di kalangan perwira Angkatan Darat pada awal 1965. Para perwira heran mengapa, misalnya, pada Februari 1965, Soeharto yang Panglima Kostrad bersama istri menghadiri pesta pernikahan Untung di desa terpencil di Kebumen, Jawa Tengah. “Mengapa perhatian Soeharto terhadap Untung begitu besar?” Menurut Maulwi, tidak ada satu pun anggota Tjakra yang datang ke Kebumen. “Kami, dari Tjakra, tidak ada yang hadir,” kata Maulwi.
Dalam bukunya, Soebandrio melihat kedatangan seorang komandan dalam pesta pernikahan mantan anak buahnya adalah wajar. Namun, kehadiran Pangkostrad di desa terpencil yang saat itu transportasinya sulit adalah pertanyaan besar. “Jika tak benar-benar sangat penting, tidak mungkin Soeharto bersama istrinya menghadiri pernikahan Untung,” tulis Soebandrio.
Hal itu diiyakan oleh Suhardi. “Pasti ada hubungan intim antara Soeharto dan Untung,” katanya. Dari mana Untung percaya adanya Dewan Jenderal? Dalam bukunya, Soebandrio menyebut, di penjara, Untung pernah bercerita kepadanya bahwa ia pada 15 September 1965 mendatangi Soeharto untuk melaporkan adanya Dewan Jenderal yang bakal melakukan kup. Untung menyampaikan rencananya menangkap mereka.
“Bagus kalau kamu punya rencana begitu. Sikat saja, jangan ragu-ragu,” demikian kata Soeharto seperti diucapkan Untung kepada Soebandrio. Bila kita baca transkrip sidang pengadilan Untung di Mahkamah Militer Luar Biasa pada awal 1966, Untung menjelaskan bahwa ia percaya adanya Dewan Jenderal karena mendengar kabar beredarnya rekaman rapat Dewan Jenderal di gedung Akademi Hukum Militer Jakarta, yang membicarakan susunan kabinet versi Dewan Jenderal.
Maulwi melihat adalah hal aneh bila Untung begitu percaya adanya informasi kudeta terhadap presiden ini. Sebab, selama menjadi anggota pasukan Tjakrabirawa, Untung jarang masuk ring I atau ring II pengamanan presiden. Dalam catatan Maulwi, hanya dua kali Untung bertemu dengan Soekarno. Pertama kali saat melapor sebagai Komandan Kawal Kehormatan dan kedua saat Idul Fitri 1964. “Jadi, ya, sangat aneh kalau dia justru yang paling serius menanggapi isu Dewan Jenderal,” kata Maulwi.
Menurut Soebandrio, Soeharto memberikan dukungan kepada Untung untuk menangkap Dewan Jenderal dengan mengirim bantuan pasukan. Soeharto memberi perintah per telegram Nomor T.220/9 pada 15 September 1965 dan mengulanginya dengan radiogram Nomor T.239/9 pada 21 September 1965 kepada Yon 530 Brawijaya, Jawa Timur, dan Yon 454 Banteng Raiders Diponegoro, Jawa Tengah.
Mereka diperintahkan datang ke Jakarta untuk defile Hari Angkatan Bersenjata pada 5 Oktober. Pasukan itu bertahap tiba di Jakarta sejak 26 September 1965. Yang aneh, pasukan itu membawa peralatan siap tempur. “Memang mencurigakan, seluruh pasukan itu membawa peluru tajam,” kata Suhardi. Padahal, menurut Suhardi, ada aturan tegas di semua angkatan bila defile tidak menggunakan peluru tajam. “Itu ada petunjuk teknisnya,” ujarnya.
Pasukan dengan perlengkapan siaga I itu kemudian bergabung dengan Pasukan Kawal Kehormatan Tjakrabirawa pimpinan Untung. Mereka berkumpul di dekat Monumen Nasional. Dinihari, 1 Oktober 1965, seperti kita ketahui, pasukan Untung bergerak menculik tujuh jenderal Angkatan Darat. Malam itu Soeharto , menunggui anaknya, Tommy, yang dirawat di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat Gatot Subroto. Di rumah sakit itu Kolonel Latief, seperti pernah dikatakannya sendiri dalam sebuah wawancara berusaha menemui Soeharto.
Dalam perjalanan pulang, Soeharto seperti diyakini Subandrio dalam bukunya, sempat melintasi kerumunan pasukan dengan mengendarai jip. Ia dengan tenangnya melewati pasukan yang beberapa saat lagi berangkat membunuh para jenderal itu.
Adapun Untung, menurut Maulwi, hingga tengah malam pada 30 September 1965 masih memimpin pengamanan acara Presiden Soekarno di Senayan. Maulwi masih bisa mengingat pertemuan mereka terakhir terjadi pada pukul 20.00. Waktu itu Maulwi menegur Untung karena ada satu pintu yang luput dari penjagaan pasukan Tjakra. Seusai acara, Maulwi mengaku tidak mengetahui aktivitas Untung selanjutnya. Ketegangan hari-hari itu bisa dirasakan dari pengalaman Suhardi sendiri. Pada 29 September, Suhardi menjadi perwira piket di pintu gerbang Istana. Tiba-tiba ada anggota Tjakra anak buah Dul Arief, peleton di bawah Untung, yang bernama Djahurup hendak masuk Istana. Menurut Suhardi, tindakan Djahurup itu tidak diperbolehkan karena tugasnya adalah di ring luar sehingga tidak boleh masuk. “Saya tegur dia.”
Pada 1 Oktober pukul 07.00, Suhardi sudah tiba di depan Istana. “Saya heran, dari sekitar daerah Bank Indonesia, saat itu banyak tentara.” Ia langsung mengendarai jip menuju markas Batalion 1 Tjakrabirawa di Tanah Abang. Yang membuatnya heran lagi, pengawal di pos yang biasanya menghormat kepadanya tidak menghormat lagi.
“Saya ingat yang jaga saat itu adalah Kopral Teguh dari Banteng Raiders,” kata Suhardi. Begitu masuk markas, ia melihat saat itu di Tanah Abang semua anggota kompi Banteng Raiders tidak ada. Begitu tahu hari itu ada kudeta dan Untung menyiarkan susunan Dewan Revolusi, Suhardi langsung ingat wajah sahabat masa kecilnya dan sahabat yang sudah dianggap anak oleh ibunya sendiri tersebut.
Teman yang bahkan saat sudah menjabat komandan Tjakrabirawa bila ke Solo selalu pulang menjumpai ibunya. “Saya tak heran kalau Untung terlibat karena saya tahu sejak tahun 1948 Untung dekat dengan PKI,” katanya. Kepada Oditur Militer pada 1966, Untung mengaku hanya memerintahkan menangkap para jenderal guna dihadapkan pada Presiden Soekarno. “Semuanya terserah kepada Bapak Presiden, apa tindakan yang akan dijatuhkan kepada mereka,” jawab Untung.
Heru Atmodjo, Mantan Wakil Asisten Direktur Intelijen Angkatan Udara, yang namanya dimasukkan Untung dalam susunan Dewan Revolusi, mengakui Sjam Kamaruzzaman-lah yang paling berperan dalam gerakan tersebut. Keyakinan itu muncul ketika pada Jumat, 1 Oktober 1965, Heru secara tidak sengaja bertemu dengan para pimpinan Gerakan 30 September: Letkol Untung, Kolonel Latief, Mayor Sujono, Sjam Kamaruzzaman, dan Pono. Heru melihat justru Pono dan Sjam-lah yang paling banyak bicara dalam pertemuan itu, sementara Untung lebih banyak diam.
“Saya tidak melihat peran Untung dalam memimpin rangkaian gerakan atau operasi ini (G-30-S),” kata Heru saat ditemui Tempo. Soeharto, kepada Retnowati Abdulgani Knapp, penulis biografi Soeharto: The Life and Legacy of Indonesia’s Second President, pernah mengatakan memang kenal dekat dengan Kolonel Latif maupun Untung. Tapi ia membantah isu bahwa persahabatannya dengan mereka ada kaitannya dengan rencana kudeta. “Itu tak masuk akal,” kata Soeharto. ”Saya mengenal Untung sejak 1945 dan dia merupakan murid pimpinan PKI, Alimin. Saya yakin PKI berada di belakang gerakan Letkol Untung,” katanya kepada Retnowati.
Demikianlah Untung. Kudeta itu bisa dilumpuhkan. Tapi perwira penerima Bintang Sakti itu sampai menjelang ditembak pun masih percaya bakal diselamatkan. (Koran Tempo, 5 Oktober 2009).

Kisah Wanita yang Ingin Sembuh dari Kecanduan Seks

type=’html’>


Kecanduan Seks
Sama halnya dengan kecanduan obat terlarang, kecanduan seks juga susah disembuhkan. Seorang perempuan di Miami, Amerika Serikat berharap pernikahan bisa menyembuhkannya, namun ternyata gagal. Berikut ini sekilas tentang kisah hidupnya.

Jenifer, bukan nama sebenarnya, telah bertahun-tahun mengalami kecanduan seks. Secara fisik gaya hidup perempuan 36 tahun asal Miami tersebut sebenarnya cukup sehat, bebas dari kecanduan alkohol maupun obat terlarang.

Kecanduan seks yang dialami Jenifer tidak membuatnya ingin bercinta asal-asalan, misalnya dengan orang asing yang ditemuinya di jalan atau di internet. Ia tetap menjalin hubungan personal yang intens, hanya saja ia melakukannya dengan berganti-ganti pasangan.

Jenifer sempat berpikir jika menikah, maka dirinya akan sembuh dan tidak berpikir untuk berhubungan seks dengan pria lain lagi. Akhirnya ia berusaha untuk setia pada satu pasangan, lalu menikah dengan pria beruntung tersebut pada Januari 2000.

Namun harapan Jenifer untuk sembuh tidak terwujud, karena pada 3 bulan kemudian ia kembali berselingkuh dengan pria lain. Meski Jeniffer mengakui suaminya adalah pria yang sangat baik, namun ia merasa tidak terpuaskan dalam berhubungan seks.

Pecandu Seks

Sambil tetap menjalani pernikahannya, Jenifer telah menjalin hubungan terlarang dengan 2 pria lain. Hubungan gelap itu berlangsung dalam jangka yang relatif panjang, masing-masing 2 tahun dengan jeda dari selingkuhan pertama ke selingkuhan kedua hanya 4 bulan.

Jenifer menyadari bahwa perilaku seksual seseorang bisa dipengaruhi oleh kehidupan masa lalunya. Demikian juga dirinya, yang ketika kecil pernah mengalami pelecehan seks di rumahnya yang luas, di salah satu kamar yang jaraknya 6 kamar dari ruangan ayahnya.

Diakui oleh Jenifer, pengalaman traumatis itu turut membentuk fantasi dan cara dia mendapatkan kepuasan seksual. Dengan selingkuhan-selingkuhannya, Jenifer akan sangat terpuaskan jika bercinta di lokasi yang posisinya tidak terlalu jauh dari tempat suaminya berada.

Perempuan yang sangat tersiksa dengan kecanduan seksnya itu sebenarnya sudah pernah menjalani terapi setidaknya 2 kali pada periode tahun 1990-an, yakni sebelum ia menikah. Namun para terapis dianggapnya tidak berusaha memahami masalah dan hanya memberi saran sederhana seolah ia hanya kecanduan alkohol.

“Mereka menyarankan agar saya masturbasi saja dan jangan berhubungan seks dengan para pria. Mereka benar-benar tidak memahami masalahnya, dan sekarang saya tahu bahwa seorang terapis tidak seharusnya berkata demikian,” ungkap Jenifer seperti dikutip dari Health, Selasa (23/8/2011).

Penderitaan Jenifer memuncak ketika suaminya memergoki email-email perselingkuhannya, lalu mengumpulkannya jadi satu dan mengirimkannya ke orangtua dan kakek neneknya. Suaminya marah dan berniat menceraikannya, dengan bukti berupa email-email yang telah ia kumpulkan tersebut.

Jenifer berusaha membela diri dan untuk pertama kalinya ia mengucapkan kata-kata yang menyiratkan sebuah pengakuan yakni, “Saya kecanduan seks.” Sebuah kalimat yang selama ini sulit ia ucapkan karena selalu dibayangi oleh pengingkaran atas kondisi yang sebenarnya ia alami.

Sebuah pengakuan yang berat, namun sangat bermakna dalam perjalanan hidup Jenifer berikutnya. Pendek kata ia jadi lebih berani mengakui kondisinya, lalu bergabung dalam sebuah perkumpulan para pecandu seks yang didampingi oleh seorang psikolog.

Dalam perkumpulan tersebut, Jenifer dan rekan-rekan sesama pecandu seks yang sebagian atau hampir seluruhnya adalah pria itu sama-sama menjalani 12 sesi terapi. Sesi yang lebih banyak diisi dengan sharing dan perenungan ini lambat laun dapat mengurangi ketergantungan Jenifer terhadap seks.

Jika semula Jenifer menganggap seks adalah kebutuhan hidup yang lebih penting dari makan dan minum, kini ia mulai bisa menerima bahwa tidak setiap waktu para pria suka diajak bercinta. Ia mulai memahami bahwa ada kalanya para pria juga bisa kelelahan untuk melakukan aktivitas tersebut.

Meski sulit bagi Jenifer untuk selalu berpikir seperti itu, ia tetap berusaha karena bagaimanapun ia ingin sembuh total. Meski harus berdamai dengan kenangan pahit di masa lalu, Jenifer akhirnya rujuk kembali dengan suaminya yang dulu pernah menceraikannya.

Tanda-tanda Kecanduan Seks

Kecanduan seks adalah sebuah penyakit yang sama dengan penyakit candu lainnya seperti kecanduan alkohol atau obat-obatan. Tidak sedikit waktu yang dibutuhkan untuk mengobati seorang pecandu seks.

Menurut Maureen Canning, seorang konsultan klinik dari Meadows Addiction Treatment Center, Arizona, untuk benar-benar menyembuhkan seorang pecandu seks dibutuhkan waktu 2 hingga 5 tahun terapi.

“Terapi kecanduan seks bukan ditujukan untuk menghilangkan hasrat seks seumur hidup, tapi untuk bisa belajar bagaimana melakukan seks dengan benar dan senang,” kata Canning.

Kecanduan seks bukan sekedar penyakit akibat tak bisa menahan godaan atau rangsangan seksual saja, tapi juga karena ketidakberdayaan untuk mengontrol perilaku. Bahkan menurut ahli psikologi, kecanduan seks kini dikategorikan sebagai penyakit saraf.

Berikut ini beberapa peringatan awal yang harus diwaspadai sebagai tanda-tanda kecanduan seks, seperti dikutip dari Lifemojo;

1. Menggunakan seks untuk menghilangkan perasaan negatif hingga bisa mendapatkan kesenangan sementara
2. Menyembunyikan perilaku seksual dari pasangan
3. Semua efek sakit dari pekerjaan, hubungan dengan orang lain atau kehidupan sehari-hari akibat obsesi terhadap seks
4. Menyadari bahwa hubungan seks yang dilakukan bisa menjadi masalah jika diketahui oleh publik
5. Ketidakmampuan untuk berhenti dari kehidupan seksual rahasia yang berbahaya secara permanen
6. Melakukan masturbasi secara kompulsif (berulang-ulang) dan melakukan seks yang tidak aman

Ada pula beberapa perilaku khas yang dimiliki oleh seorang pecandu seks seperti:

1. Memiliki keasyikan tersendiri dengan seks sepanjang waktu
2. Menjadikan aktivitasnya sebagai salah satu ritual
3. Meskipun menyadari bahwa tindakannya salah, para pecandu akan mampu mengubah perilakunya tapi tetap melakukan kesalahan yang sama berulang-ulang.

Kisah Seorang Pengemis Cantik dan Imut Asal China

type=’html’>

wpid beggarlolibeijingchines Kisah Seorang Pengemis Cantik Dan Imut Asal ChinaSebuah kisah sedih dan tragis menghentak publik Cina. Seorang gadis cantik bernama Loli di Beijing tiba-tiba jatuh miskin dan menjadi pengemis setelah keluarganya terlilit utang 100,000 yuan kepada lintah darat. Lebih sedihnya lagi, untuk menembus uang itu, Loli menjual keperawanannya
Kisah ini terungkap berkat seorang reporter yang tanpa sengaja menemukan Loli tengah berada di emperan toko saat sedang mengamen untuk mendapatkan recehan dari belas kasihan orang. Reporter ini terkejut bukan main setelah melihat wajah sang pengemis wanita ternyata sangat cantik dan imut  Yang lebih mengejutkan lagi, wanita itu memakai jaket Adidas dan kontak lens!! Lho kok bisa? Jangan2 pengemis palsu lagi? Dilanda rasa penasaran, reporter itu kemudian melacak tempat tinggalnya di sebuah kawasan rumah kumuh dan berhasil menjepret rumahnya.
Sontak saja, berita ini langsung menyebar ke seluruh Cina dan mendapat perhatian serius dari publik Cina. Belakangan diketahui, gadis ini bernama Han Biyao dan pernah bekerja sebagai waitress. Untuk menyambung hidupnya dan membantu biaya pengobatan ibunya yg sedang sakit, Biyao menjadi musisi jalanan.
Namun, cerita sedih Han Biyao ini agak diragukan karena diduga gadis ini sedang mencari sensasi untuk menjadi terkenal. Ini terungkap dari beberapa foto Biyao yang menampilkan dirinya berpose di sebuah mobil mewah, tinggal di hotel dan pergi ke Hong Kong. Bahkan, sebagian menuding Biyao adalah pelacur. Yang jadi pertanyaan, apakah benar Biyao adalah seorang pengemis atau hanya ulahnya saja yang bikin sensasi? Biarlah agan dan aganwati yang menilai .
Jarang² ada pengemis kayak gini yang berpenampilan modis dan keren
Kisah Seorang Pengemis Cantik Dan Imut Asal China Kisah Seorang Pengemis Cantik Dan Imut Asal China
Recehan dari belas kasihan orang
Pengemis Cantik Dan Imut Asal China Kisah Seorang Pengemis Cantik Dan Imut Asal China
Ini dia gan, riwayat foto perjalanan masa lalunya yang indah sekali Waktu masi punya mobil Cantik yah gan
Seorang Pengemis Cantik Dan Imut Asal China Kisah Seorang Pengemis Cantik Dan Imut Asal China
Doi tinggal di rumahnya ini gan
Kisah Seorang Pengemis Cantik Dan Imut Asal China1 Kisah Seorang Pengemis Cantik Dan Imut Asal China
Pas tinggal di hotel
Kisah Seorang Pengemis Cantik Dan Imut Asal China2 Kisah Seorang Pengemis Cantik Dan Imut Asal China
Ini waktu mau dugem, cakep amat!
Kisah Seorang Pengemis Cantik Dan Imut Asal China3 Kisah Seorang Pengemis Cantik Dan Imut Asal China
Waktu liburan di Hong Kong
Kisah Seorang Pengemis Cantik Dan Imut Asal China4 Kisah Seorang Pengemis Cantik Dan Imut Asal China

Kisah Steve Jobs Akan Difilmkan

type=’html’>

Kisah Steve Jobs Akan Difilmkan Kisah Steve Jobs Akan Difilmkan

Sony Picture diyakini akan memperoleh hak pembuatan film mengenai perjalan hidup Steve Jobs yang terispirasi dari buku biografinya.
Biografi Steve Jobs yang saat ini memperolah banyak permintaan dari pembaca, khususnya di Amerika Serikat (AS) ditulis oleh mantan ketua CNN dan editor pelaksana Time Magazine, Walter Isaacson. Sebelumnya biografi ini memang dijadwalkan akan dipublikasika pada 21 November, namun karena banyaknya permintaan membuat peluncurannya dimajukan menjadi tanggal 24 Oktober.
Biografi yang ditulis Isaacson ini terdiri lebih dari 40 wawancara khusus dengan Steve Jobs. Proses wawancara sendiri berlangsung selama dua tahun. Mulai dari keluarga, teman, rekan kerja, bahkan pesaing bisnis juga ikut berkontribusi dalam pembuatan biografi ini.
Situs Deadline.com melaporkan Sony Picture telah membuat kesepakatan dengan Isaacson dan penerbit dengan memberikan USD3 juta jika film tersebut jadi diproduksi dan memberikan uang jaminan sebesar USD 1 juta jika film itu tidak jadi diproduksi oleh Sony Picture.
Sony juga diketahui selalu berhasil mengangkat film yang didasarkan pada sebuah biografi, seperti The Social Network dan Moneyball, dengan mengangkat kisah nyata dalam berbisnis dalam sebuah film yang berkualitas.
Jika Sony Picture bisa mendatangkan produser handal seperti Aaron Sorkin yang menulis kedua film sukses yang disebutkan di atas, maka kisah hidup Steve Jobs mungkin memiliki skenario yang sangat menarik sebagai film yang patut untuk ditonton

Kisah Kejujuran Dua Bocah Penjual Tissue di Pinggir Jalan

type=’html’>

Kejujuran sebuah kata yang sangat sederhana tapi sekarang menjadi barang langka dan sangat mahal harganya. Memang ketika kita merasa senang dan segalanya berjalan lancar, mengamalkan kejujuran secara konsisten tidaklah sulit, tetapi pada saat sebuah nilai kejujuran yang kita pegang berbenturan dengan perasaan, kita mulai tergoncang apakah tetap memegangnya, atau kita biarkan tergilas oleh keadaan. Sebuah kisah kejujuran yang sangat menyentuh hati, dua orang anak kecil menjajakan tisu di pinggir jalan. Membuat kita mesti belajar banyak tentang arti sebuah kejujuran.

dua manusia super

Siang ini, tanpa sengaja, saya bertemu dua manusia super. Mereka makhluk-makhluk kecil, kurus, kumal berbasuh keringat. Tepatnya di atas jembatan penyeberangan Setia Budi, dua sosok kecil berumur kira-kira delapan tahun menjajakan tissue dengan wadah kantong plastik hitam. Saat menyeberang untuk makan siang mereka menawari saya tissue di ujung jembatan, dengan keangkuhan khas penduduk Jakarta saya hanya mengangkat tangan lebar-lebar tanpa tersenyum yang dibalas dengan sopannya oleh mereka dengan ucapan, “Terima kasih Oom!” Saya masih tak menyadari kemuliaan mereka dan cuma mulai membuka sedikit senyum seraya mengangguk ke arah mereka.

Kaki-kaki kecil mereka menjelajah lajur lain di atas jembatan, menyapa seorang laki laki lain dengan tetap berpolah seorang anak kecil yang penuh keceriaan, laki-laki itu pun menolak dengan gaya yang sama dengan saya, lagi-lagi sayup-sayup saya mendengar ucapan terima kasih dari mulut kecil mereka. Kantong hitam tempat stok tissue dagangan mereka tetap teronggok di sudut jembatan tertabrak derai angin Jakarta. Saya melewatinya dengan lirikan kearah dalam kantong itu, dua pertiga terisi tissue putih berbalut plastik transparan.
Setengah jam kemudian saya melewati tempat yang sama dan mendapati mereka tengah mendapatkan pembeli seorang wanita, senyum di wajah mereka terlihat berkembang seolah memecah mendung yang sedang menggayuti langit Jakarta.
“Terima kasih ya mbak … semuanya dua ribu lima ratus rupiah!” tukas mereka, tak lama si wanita merogoh tasnya dan mengeluarkan uang sejumlah sepuluh ribu rupiah.
“Maaf, nggak ada kembaliannya … ada uang pas nggak mbak?” mereka menyodorkan kembali uang tersebut. Si wanita menggeleng, lalu dengan sigapnya anak yang bertubuh lebih kecil menghampiri saya yang tengah mengamati mereka bertiga pada jarak empat meter.
“Oom boleh tukar uang nggak, receh sepuluh ribuan?” suaranya mengingatkan kepada anak lelaki saya yang seusia mereka. Sedikit terhenyak saya merogoh saku celana dan hanya menemukan uang sisa kembalian food court sebesar empat ribu rupiah. “Nggak punya!”, tukas saya. Lalu tak lama si wanita berkata “Ambil saja kembaliannya, dik!” sambil berbalik badan dan meneruskan langkahnya ke arah ujung sebelah timur.
Anak ini terkesiap, ia menyambar uang empat ribuan saya dan menukarnya dengan uang sepuluh ribuan tersebut dan meletakkannya kegenggaman saya yang masih tetap berhenti, lalu ia mengejar wanita tersebut untuk memberikan uang empat ribu rupiah tadi. Si wanita kaget, setengah berteriak ia bilang “Sudah buat kamu saja, nggak apa..apa ambil saja!”, namun mereka berkeras mengembalikan uang tersebut. “Maaf mbak, cuma ada empat ribu, nanti kalau lewat sini lagi saya kembalikan !”
Akhirnya uang itu diterima si wanita karena si kecil pergi meninggalkannya. Tinggallah episode saya dan mereka. Uang sepuluh ribu digenggaman saya tentu bukan sepenuhnya milik saya. Mereka menghampiri saya dan berujar “Om, bisa tunggu ya, saya ke bawah dulu untuk tukar uang ke tukang ojek!”

“Eeh … nggak usah … nggak usah … biar aja … nih!” saya kasih uang itu ke si kecil, ia menerimanya, tapi terus berlari ke bawah jembatan menuruni tangga yang cukup curam menuju ke kumpulan tukang ojek. Saya hendak meneruskan langkah tapi dihentikan oleh anak yang satunya, “Nanti dulu Om, biar ditukar dulu … sebentar.”

“Nggak apa apa, itu buat kalian” lanjut saya. “Jangan … jangan oom, itu uang oom sama mbak yang tadi juga” anak itu bersikeras. “Sudah … saya ikhlas, mbak tadi juga pasti ikhlas !”, saya berusaha membargain, namun ia menghalangi saya sejenak dan berlari ke ujung jembatan berteriak memanggil temannya untuk segera cepat.

Secepat kilat juga ia meraih kantong plastik hitamnya dan berlari ke arah saya. “Ini deh om, kalau kelamaan, maaf ..”. Ia memberi saya delapan pack tissue. “Buat apa?”, saya terbengong “Habis teman saya lama sih oom, maaf, tukar pakai tissue aja dulu”. Walau dikembalikan ia tetap menolak.
Saya tatap wajahnya, perasaan bersalah muncul pada rona mukanya. Saya kalah set, ia tetap kukuh menutup rapat tas plastik hitam tissuenya. Beberapa saat saya mematung di sana, sampai si kecil telah kembali dengan genggaman uang receh sepuluh ribu, dan mengambil tissue dari tangan saya serta memberikan uang empat ribu rupiah. “Terima kasih Om!”..mereka kembali ke ujung jembatan sambil sayup sayup terdengar percakapan, “Duit mbak tadi gimana ..?” suara kecil yang lain menyahut, “Lu hafal kan orangnya, kali aja ketemu lagi ntar kita kasihin …….”.
Percakapan itu sayup sayup menghilang, saya terhenyak dan kembali ke kantor dengan seribu perasaan. Tuhan, hari ini saya belajar dari dua manusia super, kekuatan kepribadian mereka menaklukan Jakarta membuat saya trenyuh, mereka berbalut baju lusuh tapi hati dan kemuliaannya sehalus sutra, mereka tahu hak mereka dan hak orang lain, mereka berusaha tak meminta minta dengan berdagang tissue.
Dua anak kecil yang bahkan belum balig, memiliki kemuliaan di umur mereka yang begitu belia. Kejujuran adalah mata uang yang berlaku dimana-mana. Apa yang bukan milik kita, pantang untuk kita ambil.

Kisah Mengharukan Seorang Perampok dan Anak Buta

type=’html’>

Moore adalah seorang dokter terkenal dan dihormati, melalui tangannya sudah tak terhitung nyawa yang diselamatkan, dia tinggal disebuah kota tua di Prancis. 20 tahun yang lalu dia adalah seorang narapidana, kekasihnya mengkhianati dia lari kepelukan lelaki lain, karena emosinya dia melukai lelaki tersebut, maka dia dari seorang mahasiswa di universitas terkenal menjadi seorang narapidana, dia dipenjara selama 3 tahun.

Setelah dia keluar dari penjara, kekasihnya telah menikah dengan orang lain, karena statusnya sebagai bekas narapidana menyebabkannya ketika melamar pekerjaan menjadi bahan ejekan dan penghinaan. Dalam keadaan sakit hati, Moore memutuskan akan menjadi perampok. Dia telah mengincar di bagian selatan kota ada sebuah rumah yang akan menjadi sasarannya, para orang dewasa dirumah tersebut semuanya pergi bekerja sampai malam baru pulang kerumah, didalam rumah hanya ada seorang anak kecil buta yang tinggal sendirian.

Dia pergi kerumah tersebut mencongkel pintu utama membawa sebuah pisau belati, masuk kedalam rumah, sebuah suara lembut bertanya, “Siapa itu?” Moore sembarangan menjawab, “Saya adalah teman papamu, dia memberikan kunci rumah kepadaku.”

Anak kecil ini sangat gembira, tanpa curiga berkata, “Selamat datang, namaku Kay, tetapi papaku malam baru sampai ke rumah, paman apakah engkau mau bermain sebentar dengan saya?” Dia memandang dengan mata yang besar dan terang tetapi tidak melihat apapun, dengan wajah penuh harapan, di bawah tatapan memohon yang tulus, Moore lupa kepada tujuannya, langsung menyetujui.

Yang membuat dia sangat terheran-heran adalah anak yang berumur 8 tahun dan buta ini dapat bermain piano dengan lancar, lagu-lagu yang dimainkannya sangat indah dan gembira, walaupun bagi seorang anak normal harus melakukan upaya besar sampai ke tingkat seperti anak buta ini, setelah selesai bermain piano anak ini melukis sebuah lukisan yanag dapat dirasakan didalam dunia anak buta ini, seperti matahari, bunga, ayah-ibu, teman-teman, dunia anak buta ini rupanya tidak kosong, walaupun lukisannya kelihatannya sangat canggung, yang bulat dan persegi tidak dapat dibedakan, tetapi dia melukis dengan sangat serius dan tulus.

“Paman, apakah matahari seperti ini?” Moore tiba-tiba merasa sangat terharu, lalu dia melukis di telapak tangan anak ini beberapa bulatan, “Matahari bentuknya bulat dan terang, dan warnanya keemasan.” 

“Paman, apa warna keemasan itu?” dia mendongakkan wajahnya yang mungil bertanya, Moore terdiam sejenak, lalu membawanya ketempat terik matahari, “Emas adalah sebuah warna yang sangat vitalitas, bisa membuat orang merasa hangat, sama seperti kita memakan roti yang bisa memberi kita kekuatan.“ 

Anak buta ini dengan gembira dengan tangannya meraba ke empat penjuru, “Paman, saya sudah merasakan, sangat hangat, dia pasti akan sama dengan warna senyuman paman.“ Moore dengan penuh sabar menjelaskan kepadanya berbagai warna dan bentuk barang, dia sengaja menggambarkan dengan hidup, sehingga anak yang penuh imajinatif ini mudah mengerti. Anak buta ini mendengar ceritanya dengan sangat serius, walaupun dia buta, tetapi rasa sentuh dan pendengaran anak ini lebih tajam dan kuat daripada anak normal, tanpa terasa waktu berlalu dengan cepat.

Akhirnya, Moore teringat tujuan kedatangannya, tetapi Moore tidak mungkin lagi merampok. Hanya karena kecaman dan ejekan dari masyarakat dia akan melakukan kejahatan lagi, berdiri di hadapan Kay dia merasa sangat malu, lalu dia menulis sebuah catatan untuk orang tua Kay, “Tuan dan nyonya yang terhormat, maafkan saya mencongkel pintu rumah kalian, kalian adalah orang tua yang hebat, dapat mendidik anak yang demikian baik, walaupun matanya buta, tetapi hatinya sangat terang, dia mengajarkan kepada saya banyak hal, dan membuka pintu hati saya.”

Tiga tahun kemudian, Moore menyelesaikan kuliahnya di universitas kedokteran, dan memulai karirnya sebagai seorang dokter.

Enam tahun kemudian, dia dan rekan-rekannya mengoperasi mata Kay, sehingga Kay bisa melihat keindahan dunia ini, kemudian Kay menjadi seorang pianis terkenal, yang mengadakan konser ke seluruh dunia, setiap mengadakan konser, Moore akan berusaha menghadirinya, duduk disebuah sudut yang tidak mencolok, mendengarkan music indah menyirami jiwanya yang dimainkan oleh seorang pianis yang dulunya buta.

Ketika Moore mengalami kekecewaan terhadap dunia dan kehidupannya, semangat dan kehangatan Kay kecil yang buta ini yang memberikan kehangatan dan kepercayaan diri kepadanya, Kay kecil yang tinggal didalam dunia yang gelap, sama sekali tidak pernah putus asa dan menyia-nyiakan hidupnya, dia membuat orang menyadari betapa besar vitalitas dalam hidup ini, vitalitas dan semangat ini menyentuh ke dasar hati Moore.

Cinta dan harapan akan dapat membuat seseorang kehilangan niat melakukan kejahatan, sedikit harapan mungkin bisa menyembuhkan seorang yang putus asa, atau bahkan bisa mengubah nasib kehidupan seseorang atau kehidupan banyak orang, seperti Moore yang telah membantu banyak orang, ketika mengalami putus asa maka bukalah pintu hatimu, maka cahaya harapan akan menyinari hatimu.


Kisah Sukses Pencipta Bonceng Anak

type=’html’>

Roihatul JannahIa memenangkan Penghargaan Business Start-Up 2008 dari Shell LiveWIRE Indonesia sebagai seorang wirausahawan muda pemula yang memiliki peluang bisnis menjanjikan. Produknya kecil namun maknanya menjadi amat besar bagi para orangtua di seluruh penjuru Indonesia. Roihatul Jannah adalah pencipta perangkat pembonceng anak yang berhasil memberi ketenteraman hati pada orangtua yang memboncengkan anak naik kendaraan roda-dua.
Inspirasi muncul dari keharusan memboncengkan anak balitanya yang masuk pra-sekolah pada usia 1 tahun. Anak sulungnya, Hasnah, karena sudah berusia 5 tahun, dapat diberi pengertian untuk menjaga diri selama berbonceng motor.Beda halnya setiapkali ia harus memboncengkan si kecil Fatih. Hatinya dag-dig-dug karena puteranya ini punya kebiasaan tertidur apabila dibonceng. Awalnya ia mengandalkan bantuan kerabat untuk ikut berbonceng sambil memegangkan si kecil Fatih. Ia kemudian menyadari bahwa tidak selalu kerabat bisa diminta tolong. Wajarlah apabila ia kemudian menjelajah toko-toko perlengkapan sepeda motor mencari alat pengaman untuk memboncengkan anak. Hasilnya sia-sia.
Setelah berpikir-pikir, Roihatul Jannah akhirnya berkeputusan mengerahkan bakat alaminya untuk merancang sendiri kursi pembonceng buat anaknya. Lulusan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia ini membuat sebuah gambar teknis sederhana, dengan mempertimbangkan struktur boncengan motor agar pas kalau dipasang. Kemudian ia membawa gambar ini ke tukang las untuk diwujudkan menggunakan bahan baja anti-karat (stainless steel). Agar anak merasa nyaman, kursi pembonceng itu diberi bantalan dan sabuk pengaman. Setiap bahan yang ia pilih terutama mempertimbangkan keselamatan si anak pengguna.
Perangkat pembonceng kreasinya ini masih bersifat eksperimen di waktu itu. Guna memberi keamanan ekstra, ia mengencangkan posisi pembonceng itu ke tubuhnya dengan menggunakan selendang gendong, agar anak tidak lepas saat tertidur. Karena unik, dengan sendirinya banyak pengemudi motor lain menyapanya ketika berhenti di lampu merah dan menanyakan di mana pembonceng itu bisa dibeli.
Ketika Shell LiveWIRE Indonesia mengundang kaum muda di UI untuk ikut seleksi Business Start-Up Award 2008, Roihatul Jannah disodori formulir. Karena tersemangati oleh perhatian positif dari orang-orang di sekelilingnya akan kreasinya, Roihatul Jannah pun serta-merta mengisi lengkap formulir. Ternyata setiap peserta harus menjalankan beberapa tahap ujian. “Alhamdullilah, saya lolos semua tahap seleksi, sampai ke final. Ini membuat saya tambah semangat. Lalu terpikirkan oleh saya untuk bikin bengkel sendiri,” demikian ceritanya mengenai kemenangannya di lomba tersebut. Hadiah yang diperoleh sebanyak Rp 20 juta ditambah pinjaman uang dari ibunya ia jadikan modal awal untuk membuka bengkelnya sendiri.
Laku 50 Unit Per Minggu, Sampai Papua
Produk kreasinya ia namakan ‘HELMIAT’, kata yang dibuat dari gabungan nama suaminya ‘Helmi’ dan nama panggilan dirinya sejak kecil, yaitu ‘Iat’. Dalam deskripsinya, produk buatannya ini disebut ‘bonceng bocah’. Ternyata produk Bonceng Boceh Helmiat mengundang peminat dari seluruh Indonesia. Pada akhir tahun 2008, ia sudah memiliki distributor di Jakarta, Surabaya dan Medan. Pengecerannya sudah jauh menyebar luas, dari Pekan Baru, Palembang, Padang, Lampung, Samarinda, Balikpapan, Pare-pare, Bali, NTB, NTT, Ambon, hingga Papua. Dalam seminggu, kurang-lebih 50 unit terjual, katanya.
Bantalan pada produknya sengaja menggunakan bahan aman-anak dengan motif-motif lucu. Setiap unit menjalani uji kekuatan dan beban di laboratorium Teknik Mesin UI. Dari hasil tes, produknya itu aman sampai bebas maksimal 50 kilogram. “Pada keterangan produk, saya merekomendasikan 40 kg,” ujar perempuan dengan panggilan Iat ini, yang pada tahun 2002 dinobatkan sebagai Mahasiswa Berprestasi Universitas Indonesia. Sejak pertama dibuat di tukang las hingga kini, sudah banyak penyempurnaan disain dan konstruksi yang terjadi pada produk ciptaannya tersebut.
Anak kedua dari tujuh bersaudara, Iat tumbuh dewasa di Tegal, Jawa Tengah, hingga lulus SMA sebelum pindah ke ibukota untuk menuntut ilmu di UI. Ia mengaku bahwa semangat untuk berwirausaha ia dapat dari kedua orangtuanya yang masing-masing menjalankan usahanya tersendiri. Abah pedagang tekstil dan umi menciptakan disain kain kebaya yang diteruskan ke penjahit untuk dijual. Empat saudara kandungnya mengikuti jejak sang abah menjadi pedagang tekstil.
Produk HELMIAT sudah mendapatkan hak cipta [patent] dari Dirjen Haki dan nomor patent tertera di balik sandaran boncengan. Per unit bonceng bocah ini dijual dengan harga Rp 250.000,- dan dianjurkan hanya untuk membonceng anak menempuh jarak dekat saja. “Bukan untuk perjalanan jauh,” ujar Roihatul Jannah mengingatkan. “Idealnya, anak kecil memang nggak boleh bonceng motor.”