Archive for the ‘Tugu Monas’ Category

Miliuner Malaysia Kencani Paris Hilton ( US$82.000 saja )


Foto : Mr Low & Paris Hilton

Ternyata yang kencan dan pesta gila-gilaan dengan selebritis dunia seperti Paris Hilton bukan hanya orang bule saja. Miliuner Malaysia Mr Low Taek Jho ternyata juga mampu membuat pesta heboh dengan selebritis dunia. Hebatnya selain Paris Hilton ia juga pesta dengan Megan Fox dan P Diddy.

Ia baru-baru ini membuka sedikit jati dirinya kepada harian Malaysia, The Star setelah koran-koran di Amerika dan tabloid-tabloid luar negeri menyebutnya sebaga Man of Mistery.

Mr Low (28) pintar berbagai bahasa internasional. Ia lahir dan dibesarkan di negara bagian Penang, Malaysia. Soal hura-huranya, ia mengelak bahwa ia yang menghambur-hambgurkan uang. Ia malah menunjuk teman masa kecilnya etnis Arab dan para investornya.

Mr Low juga menekankan pentingnya pergi ke sekolah yang tepat. Dengan cara itu ia mengungkapkan ketika dia baru saja berusia 20 tahun pertama kalinya ia telah mampu memperoleh kekayaan sebesar satu juta dolar dan kemudian bertambah miliaran lebih dalam bisnis yang ia geluti selama ini.

Dia menyatakan bahwa dia tengah menciptakan portofolio – bernilai miliaran – yang akan go public pada bulan Oktober tahun ini.

Taipan ini juga berbicara tentang kehidupan yang sekarang ia jalani yaitu keliling dunia yang meliputi tempat-tempat seperti Los Angeles, New York, London, Abu Dhabi, Kuala Lumpur dan St Tropez Prancis.

Saat itu di St Tropez ia dan Paris Hilton membayar sekitar S$3.800.000 tagihan di klub malam eksklusif Byblos. Menurut News of the World, pengusaha muda yang dilaporkan tidak asing dengan pesta, ini menutup tagihan.

The New York Post bulan November juga menggambarkan dia sebagai seorang pria “misterius” yang besar belanjanya menjadi pembicaraan di kehidupan malam di New York. Post melap[orkan bahwa Mr Low menghabiskan sekitar US$50.000 (Rp450 juta) hingga US$82.000 ( Rp800 juta) semalam.

Dia bahkan pernah menerbangkan delapan pelayan klub untuk pesta di Malaysia.

Dalam wawancara, Mr Low juga berbicara pestanya selebriti internasional seperti Paris Hilton, Megan Fox, Jamie Foxx, Lindsay Lohan dan Usher.

Tapi ia juga mengklaim bahwa berita tentang dirinya sering berlebihan.

Julia Perez Punya Koleksi Ratusan Dildo


Rasa ingin tahu yang besar tentang penis menjadi alasan bagi Julia Perez mengkoleksi ratusan dildo (sex toys berbentuk penis–red) dari banyak negara.

Mulai tanggal 12 November 2009, resmi sudah Julia Perez menjadi Duta Kondom Indonesia. Kepedulian dan tingkat pengetahuan tentang seks menjadi alasan mengapa Julia Perez dipilih menjadi Duta Kondom.

Pengetahuan seks Julia Perez didapat secara otodidak, malah sejak usia 17 tahun, Jupe begitu biasa dia disapa sudah mengkoleksi dildo.

Apa benar mengkoleksi ratusan dildo? Kok memilih koleksi Dildo kenapa bukan yang lain seperti perhiasan misalnya?

Ya, saya mengkoleksi dildo. Jumlahnya sudah tidak terhitung. Ratusan kali. Saya mengkoleksi dari umur 17 tahun. Pertama kali belinya di Singapura, waktu beli sempat ngakak dan bingung. Ini benda kok aneh yah, dan dipajang bebas lagi. Pas aku usia 18 tahun, pergi meninggalkan Indonesia, aku jadi kenal banyak dild0, pelan-pelan aku koleksi.

Berarti punya banyak macam koleksi dildo, dari negara mana saja?

Banyak. Malah waktu aku tinggal di Eropa rajin beli. Setiap aku mampir ke Sex Shop aku beli dildo. Bentuknya macam-macam dan unik. Tiap negara punya ciri sendiri.

Ada cerita unik dari koleksi ini?

Ada, beberapa temanku bingung dan heran, dikir aku ini maniak seks karena mengkoleksi dildo. Padahal aku koleksi hanya karena bentuknya yang unik aja. Pernah ada yang melihat dildo dari Afrika sampai bingung dan bilang, elo koleksi beginian nggak niat makai kan. Hahahahahaha

Ada keinginan ingin pakai dildo?

Nggak pernah. Ngapain pakai benda begituan kalau masih bisa merasakan yang aslinya.Hehehe

Punya koleksi dildo favorit?

Ada beberapa. Khususnya yang dari negara Eropa. Buatannya halus dan ngeliatnya seperti cita rasa seni saja. Ngeliat benda begituan jangan ngeres dong…kan bukan untuk dipakai!.

Sebagai duta kondom, ada rencana akan pakai koleksi dildonya sebagai alat peraga?

Belum tahu. Aku lihat sikon dulu. Soalnya promosi kondom itu bukan pekerjaan yang mudah. Jangankan memperlihatkan dildo, memberitahu jenis kondom ajah gue di demo, apalagi bawa barang begituan.

Kakek 14 Cucu Tewas Habis Kencan di Warung Remang-remang


Sungguh tragis nasib Mancung bin Narim, kakek berusia 75 tahun. Kakek dengan 14 cucu ini mengembuskan napas terakhir seusai berkencan di warung remang-remang, di Kampung Jiun Jarakosta, Desa Karang Satu, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat.
Sebelum ditemukan tewas, Mancung berpamitan untuk menangih uang sewa traktornya. Namun kenyataan lain. Sang kakek pergi ke lokalisasi. Teman kencan korban menuturkan, Mancung datang siang dan berkencan dengan dirinya. Usai berkencan, sang kakek mengembuskan napas terakhir.
Belum diketahui penyebab meninggalnya lelaki yang sehari-hari sering menggunakan sepeda ini. Untuk pengusutan lebih lanjut, Kepolisian Sektor Kedung Waringin memeriksa sejumlah saksi termasuk teman kencan korban. Sementara suasana duka menyelimuti keluarga korban.

Inilah Orang Yang Menyumbang Emas Tugu Monas



Ternyata 38 kg emas yang dipajang di puncak tugu Monumen Nasional (Monas) Jakarta, 28 kg di antaranya adalah sumbangan dari Teuku Markam , salah seorang saudagar Aceh yang pernah menjadi orang terkaya Indonesia.

Orang-Orang hanya tahu bahwa emas tersebut memang benar sumbangan saudagar Aceh. Namun tak banyak yang tahu, bahwa Teuku Markamlah saudagar yang dimaksud itu.

Itu baru segelintir karya Teuku Markam untuk kepentingan negeri ini. Karya lainnya, ia pun ikut membebaskan lahan Senayan untuk dijadikan pusat olah raga terbesar Indonesia. Tentu saja banyak bantuan-bantuan Teuku Markam lainnya yang pantas dicatat dalam memajukan perekonomian Indonesia di zaman Soekarno, hingga menempatkan Markam dalam sebuah legenda.

Di zaman Orba, karyanya yang terbilang monumental adalah pembangunan infrastruktur di Aceh dan Jawa Barat. Jalan Medan-Banda Aceh, Bireuen-Takengon, Meulaboh, Tapaktuan dan lain-lain adalah karya lain dari Teuku Markam yang didanai oleh Bank Dunia. Sampai sekarang pun, jalan-jalan itu tetap awet. Teuku Markam pernah memiliki sejumlah kapal, dok kapal di Jakarta, Makassar, Medan, Palembang. Ia pun tercatat sebagai eksportir pertama mobil Toyota Hardtop dari Jepang. Usaha lain adalah mengimpor plat baja, besi beton sampai senjata untuk militer.

Mengingat peran yang begitu besar dalam percaturan bisnis dan perekonomian Indonesia, Teuku Markam pernah disebut-sebut sebagai anggota kabinet bayangan pemerintahan Soekarno. Peran Markam menjadi runtuh seiring dengan berkuasanya pemerintahan Soeharto. Ia ditahan selama delapan tahun dengan tuduhan terlibat PKI. Harta kekayaannya diambil alih begitu saja oleh Rezim Orba. Pernah mencoba bangkit sekeluar dari penjara, tapi tidak sempat bertahan lama. Tahun 1985 ia meninggal dunia. Aktivitas bisnisnya ditekan habis-habisan. Ahli warisnya hidup terlunta-lunta sampai ada yang menderita depresi mental. Hingga kekuasaan Orba berakhir, nama baik Teuku Markam tidak pernah direhabilitir. Anak-anaknya mencoba bertahan hidup dengan segala daya upaya dan memanfaatkan bekas koneksi-koneksi bisnis Teuku Markam. Dan kini, ahli waris Teuku Markam tengah berjuang mengembalikan hak-hak orang tuanya.

Siapakah Teuku Markam ??

Teuku Markam turunan uleebalang. Lahir tahun 1925. Ayahnya Teuku Marhaban. Kampungnya Seuneudon dan Alue Capli, Panton Labu Aceh Utara. Sejak kecil Teuku Markam sudah menjadi yatim piatu. Ketika usia 9 tahun, Teuku Marhaban meninggal dunia. Sedangkan ibunya telah lebih dulu meninggal. Teuku Markam kemudian diasuh kakaknya Cut Nyak Putroe. Sempat mengecap pendidikan sampai kelas 4 SR (Sekolah Rakyat).

Teuku Markam tumbuh lalu menjadi pemuda dan memasuki pendidikan wajib militer di Koeta Radja (Banda Aceh sekarang) dan tamat dengan pangkat letnan satu. Teuku Markam bergabung dengan Tentara Rakyat Indonesia (TRI) dan ikut pertempuran di Tembung, Sumatera Utara bersama-sama dengan Jendral Bejo, Kaharuddin Nasution, Bustanil Arifin dan lain-lain. Selama bertugas di Sumatera Utara, Teuku Markam aktif di berbagai lapangan pertempuran. Bahkan ia ikut mendamaikan clash antara pasukan Simbolon dengan pasukan Manaf Lubis.

Sebagai prajurit penghubung, Teuku Markam lalu diutus oleh Panglima Jenderal Bejo ke Jakarta untuk bertemu pimpinan pemerintah. Oleh pimpinan, Teuku Markam diutus lagi ke Bandung untuk menjadi ajudan Jenderal Gatot Soebroto. Tugas itu diemban Markam sampai Gatot Soebroto meninggal dunia.

Adalah Gatot Soebroto pula yang mempercayakan Teuku Markam untuk bertemu dengan Presiden Soekarno. Waktu itu, Bung Karno memang menginginkan adanya pengusaha pribumi yang betul-betul mampu menghendel masalah perekonomian Indonesia. Tahun 1957, ketika Teuku Markam berpangkat kapten (NRP 12276), kembali ke Aceh dan mendirikan PT Karkam. Ia sempat bentrok dengan Teuku Hamzah (Panglima Kodam Iskandar Muda) karena “disiriki” oleh orang lain. Akibatnya Teuku Markam ditahan dan baru keluar tahun 1958. Pertentangan dengan Teuku Hamzah berhasil didamaikan oleh Sjamaun Gaharu.

Keluar dari tahanan, Teuku Markam kembali ke Jakarta dengan membawa PT Karkam. Perusahaan itu dipercaya oleh Pemerintah RI mengelola pampasan perang untuk dijadikan dana revolusi. Selanjutnya Teuku Markam benar-benar menggeluti dunia usaha dengan sejumlah aset berupa kapal dan beberapa dok kapal di Palembang, Medan, Jakarta, Makassar, Surabaya. Bisnis Teuku Markam semakin luas karena ia juga terjun dalam ekspor – impor dengan sejumlah negara. Antara lain mengimpor mobil Toyota Hardtop dari Jepang, besi beton, plat baja dan bahkan sempat mengimpor senjata atas persetujuan Departemen Pertahanan dan Keamanan (Dephankam) dan Presiden.

Komitmen Teuku Markam adalah mendukung perjuangan RI sepenuhnya termasuk pembebasan Irian Barat serta pemberantasan buta huruf yang waktu itu digenjot habis-habisan oleh Soekarno. Hasil bisnis Teuku Markam konon juga ikut menjadi sumber APBN serta mengumpulkan sejumlah 28 kg emas untuk ditempatkan di puncak Monumen Nasional (Monas). Sebagaimana kita tahu bahwa proyek Monas merupakan salah satu impian Soekarno dalam meningkatkan harkat dan martabat bangsa.

Peran Teuku Markam menyukseskan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Asia Afrika tidak kecil berkat bantuan sejumlah dana untuk keperluan KTT itu.

Teuku Markam termasuk salah satu konglomerat Indonesia yang dikenal dekat dengan pemerintahan Soekarno dan sejumlah pejabat lain seperti Menteri PU Ir Sutami, politisi Adam Malik, Soepardjo Rustam, Kaharuddin Nasution, Bustanil Arifin, Suhardiman, pengusaha Probosutedjo dan lain-lain. Pada zaman Soekarno, nama Teuku Markam memang luar biasa populer. Sampai-sampai Teuku Markam pernah dikatakan sebagai kabinet bayangan Soekarno.

Sejarah kemudian berbalik. Peran dan sumbangan Teuku Markam dalam membangun perekonomian Indonesia seakan menjadi tiada artinya di mata pemerintahan Orba. Ia difitnah sebagai PKI dan dituding sebagai koruptor dan Soekarnoisme.

Tuduhan itulah yang kemudian mengantarkan Teuku Markam ke penjara pada tahun 1966. Ia dijebloskan ke dalam sel tanpa ada proses pengadilan. Pertama-tama ia dimasukkan tahanan Budi Utomo, lalu dipindahkan ke Guntur, selanjutnya berpindah ke penjara Salemba Jln Percetakan Negara. Lalu dipindah lagi ke tahanan Cipinang, dan terakhir dipindahkan ke tahanan Nirbaya, tahanan untuk politisi di kawasan Pondok Gede Jakarta Timur. Tahun 1972 ia jatuh sakit dan terpaksa dirawat di RSPAD Gatot Subroto selama kurang lebih dua tahun.

Peralihan kekuasaan dari Soekarno ke Soeharto membuat hidup Teuku Markam menjadi sulit dan prihatin. Ia baru bebas tahun 1974. Ini pun, kabarnya, berkat jasa- jasa baik dari sejumlah teman setianya. Teuku Markam dilepaskan begitu saja tanpa ada konpensasi apapun dari pemerintahan Orba. “Memang betul, saat itu Teuku Markam tidak akan menuntut hak- haknya. Tapi waktu itu ia kan tertindas dan teraniaya,” kata Teuku Syauki Markam, salah seorang putra Teuku Markam.

Soeharto selaku Ketua Presidium Kabinet Ampera, pada 14 Agustus 1966 mengambil alih aset Teuku Markam berupa perkantoran, tanah dan lain-lain yang kemudian dikelola PT PP Berdikari yang didirikan Suhardiman untuk dan atas nama pemerintahan RI. Suhardiman, Bustanil Arifin, Amran Zamzami (dua orang terakhir ini adalah tokoh Aceh di Jakarta) termasuk teman-teman Markam. Namun tidak banyak menolong mengembalikan asset PT Karkam. Justru mereka ikut mengelola aset-aset tersebut di bawah bendera PT PP Berdikari. Suhardiman adalah orang pertama yang memimpin perusahaan tersebut. Di jajaran direktur tertera Sukotriwarno, Edhy Tjahaja, dan Amran Zamzami. Selanjutnya PP Berdikari dipimpin Letjen Achmad Tirtosudiro, Drs Ahman Nurhani, dan Bustanil Arifin SH.

Pada tahun 1974, Soeharto mengeluarkan Keppres N0 31 Tahun 1974 yang isinya antara lain penegasan status harta kekayaan eks PT Karkam/PT Aslam/PT Sinar Pagi yang diambil alih pemerintahan RI tahun 1966 berstatus “pinjaman” yang nilainya Rp 411.314.924,29 sebagai penyertaan modal negara di PT PP Berdikari.

Kepres itu terbit persis pada tahun dibebaskannya Teuku Markam dari tahanan.

Proyek Bank Dunia

Sekeluar dari penjara, tahun 1974, Teuku Markam mendirikan PT Marjaya dan menggarap proyek-prorek Bank Dunia untuk pembangunan infrastruktur di Aceh dan Jawa Barat. Tapi tidak satupun dari proyek-proyek raksasa yang dikerjakan PT Marjaya baik di Aceh maupun di Jawa Barat, mau diresmikan oleh pemerintahan Soeharto. Proyek PT Marjaya di Aceh antara lain pembangunan Jalan Bireuen – Takengon, Aceh Barat, Aceh Selatan, Medan-Banda Aceh, PT PIM dan lain-lain.

Teuku Syauki menduga, Rezim Orba sangat takut apabila Teuku Markam kembali bangkit. Untuk itulah, kata Teuku Syauki, proyek-proyek Markam “dianggap” angin lalu.

Teuku Markam meninggal tahun 1985 akibat komplikasi berbagai penyakit di Jakarta. Sampai akhir hayatnya, pemerintah tidak pernah merehabilitasi namanya. Bahkan sampai sekarang.