Archive for the ‘sungai’ Category

Puskesmas Terapung yang Mondar-mandir di Sungai Mahakam

type=’html’>

Kondisi geografis di Kabupaten Kutai Barat menyulitkan masyarakat untuk pergi ke puskesmas pembantu (Pustu) karena jaraknya yang jauh. Sehingga kebanyakan masyarakat lebih memilih pengobatan ke dukun atau alternatif. Dengan puskesmas terapung yang lokasinya berpindah-pindah memudahkan masyarakat mendapat fasilitas kesehatan. Ide awal dari Puskesmas Apung KM Mook Manaar Bulatn ini berasal dari Bupati Kutai Barat yaitu Ismael Thomas pada tahun 2006, dan puskesmas terapung ini resmi beroperasi pada November 2008.

puskesmas apung

“Tujuannya melayani masyarakat yang ada di bantaran sungai mahakam sehingga bisa menyentuh ke masyarakat banyak dan untuk melayani kesehatan ini musti jemput bola,” ujar Ismael Thomas, SH dalam video mengenai puskesmas terapung yang diputar di Gedung Kemenkes.

puskesmas apung

Selama ini kebanyakan masyarakat lebih memilih pengobatan ke dukun atau alternatif karena pergi ke puskesmas pembantu (Pustu) jaraknya jauh. “Meski ada Pustu, jarak antar kampung A dan B jaraknya bisa mencapai 2-3 jam, jadi puskesmas terapung ini sangat membantu serta mendekatkan akses masyarakat terhadap kesehatan sehingga bisa mendapat pelayanan yang lebih baik,” ujar Kadinkes Kutai Barat, Zulkarnaen, SE, MKes.
Puskesmas terapung ini terbilang lengkap karena bisa melayani kesehatan umum, gigi, ibu dan anak serta keluarga berencana (KB) dan ada dokter spesialis yang datangs ecara berkala. Meski puskesmas ini berada di dalam kapal, tapi peralatan yang dimiliki terbilang cukup lengkap seperti ada alat USG, peralatan bedah minor, laboratorium serta rontgen portable yang standarnya sama seperti pelayanan kesehatan di darat.
Di kabupaten Kutai Barat ini ada sekitar 50 kampung yang terdiri dari 166 ribu jiwa, sedangkan biaya operasional yang diperlukan untuk puskesmas terapung ini sekitar Rp 1,7 miliar per tahunnya. Rute perjalanan dari puskesmas terapung ini dimulai dari Pelabuhan Melak yang berada di tengah-tengah dari kabupaten Kutai Barat lalu menuju daerah hulu sungai, kemudian balik lagi ke Pelabuhan Melak untuk mengambil kebutuhan logistik lalu berangkat menuju daerah hilir sungai.
Setiap kali puskesmas ini merapat di dermaga maka tidak ada waktu yang pasti berapa lama puskesmas ini berada di daerah tersebut. Hal ini karena tergantung dari jumlah pasien yang datang ke puskesmas tersebut. Masyarakat biasanya sudah mengetahui kapan jadwal puskesmas terapung akan merapat ke daerahnya, sehingga ketika puskesmas terapung ini datang maka warga sudah menunggu di dermaga. Sebagian besar pasien dari puskesmas terapung ini adalah anggota Jamkesda dan Jamkesmas.
“Masalah yang banyak dihadapi oleh masyarakat disini adalah hipertensi (tekanan darah tinggi), maag serta penyakit infeksi tenggorokan seperti batuk pilek,” ujar dokter PTT yang bekerja di puskesmas terapung ini, dr Aditya Nugraha.
Sedangkan untuk masalah persalinan masih banyak masyarakat yang percaya dengan dukun, kalau terjadi perdarahan atau bayinya meninggal baru meminta bantuan tenaga kesehatan. Meski begitu setiap kali puskesmas terapung ini merapat, maka masyarakat akan memilih berobat ke puskesmas. Pasien yang mendatangi puskesmas terapung ini terbilang banyak bahkan pernah dalam 1 hari melayani hingga 200 pasien dengan waktu kerja sekitar 20-24 hari dalam sebulan tergantung dari kondisi cuaca.
Meski begitu di kapal ini juga terdapat ruang santai seperti fasilitas karaoke yang bisa digunakan oleh para kru puskesmas untuk melepas lelah dan juga mengurangi tingkat stres karena harus berada di atas kapal dalam jangka waktu lama. Saat ini baru terdapat 1 puskesmas terapung. Rencananya kabupaten Kutai Barat akan menambah 1 kapal lagi agar bisa saling mengisi serta dapat meningkatkan pelayanan kesehatan pada masyarakat.

Ilmuwan Temukan Gunung dan Sungai Kuno di Dasar Lautan

type=’html’>Sebuah bentang daratan atau lanskap kuno yang telah lama tenggelam di Samudera Atlantik Utara ditemukan oleh sejumlah ilmuwan.

Para peneliti telah menemukan daratan yang hilang sekitar 56 juta tahun lalu, lewat analisa data yang dikumpulkan untuk beberapa perusahaan minyak, bertekhnologi canggih echo-sounding. Merekapun menyamakannya temuan ini dengan mitos kota hilang Atlantis, Lanskap pada kedalaman 1,2 mil tersebut terletak di Atlantik Utara sebelah barat kepulauan Orkney-Shetland dengan puncak yang dulu milik delapan gunung dan sungai-sungai besar.

Para ilmuwan mampu mengkonstruksi citra 3D dari lanskap yang
tenggelam di Samudera Atlantik Utara dengan mengukur gema dari gelombang suara
bawah air saat mereka menyentuh tipe lahan berbeda.

Lahan itu kemungkinan dulu berada 0,6 mil diatas permukaan laut dan bergabung dengan apa yang kini disebut Skotlandia, atau bahkan mungkin telah terbentang jauh hingga ke Norwegia, ujar para ilmuwan.

Dilansir Daily Mail (11/7), peneliti Nicky White dari Universitas Cambridge mengatakan, “Kelihatannya sangat mirip suatu peta dari negeri yang sedikit daratan.”

“Hal ini seperti sebuah fosil lanskap kuno yang telah bertahan hingga 1,2 mil di bawah dasar lautan.”

Temuan ini bermula dari kumpulan data sebuah perusahaan kontraktor yang biasanya meneliti wilayah gempa.

Suatu tekhnik dari sebuah tekhnologi tinggi echo-sounding disebarkan, yang kemudian melepas udara bertekanan tinggi di bawah air—hal ini menghasilkan gelombang suara yang bergerak melalui sedimen di dasar lautan.

Sebuah gema atau echo akan timbul kembali setiap kali gelombang ini mengalami perubahan pada medan yang dilalui.

Gema ini kemudian dijemput oleh mikrofon yang tergantung di dalam air dari sebuah kapal pada permukaan laut.

Dengan demikian para ilmuwan dapat mengkonstruksi citra 3D dari lahan yang berada di bawahnya pada saat mana mereka menyadari bahwa mereka memiliki bukti dari lanskap terpendam itu.

Bukti bahwa lahan ini pernah dihuni dikumpulkan lewat sampel inti–diambil dari batu karang bawah laut—yang mengungkapkan bahwa benda ini merupakan serbuk sari dan batubara.

Di tempat berbeda para ilmuwan Cambridge menemukan fosil-fosil kecil, yang membuktikan bahwa lanskap ini pernah menjadi lingkungan laut.

Mereka meyakini bahwa lanskap ini muncul dan tenggelam dalam 2,5 juta tahun karena Plum Islandia—sebuah aliran material yang melewati mantel bumi di bawah Samudera Atlantik Utara.

Fungsinya membawa magma panas dari dalam bumi hingga hanya dibawah permukaan, di mana riak itu keluar.

Dr. White mengatakan, lanskap itu kemungkinan telah disapu di bawah Lautan Atlantik selama terjadinya gelombang magma.

Ia mengklaim telah menemukan dua lanskap bawah air lebih baru, yang keduanya disebabkan oleh fenomena serupa.

Riset ini diterbitkan dalam jurnal Nature Geoscience.

sumber

Inilah Ikan Sungai Pemakan Manusia Dan Kerbau

type=’html’>

Sejak tahun 1998 hingga 2007, sudah tiga orang lenyap dan tenggelam secara mendadak di Great River, sungai yang melintang di perbatasan antara Nepal dan India utara.

Goonch Catfish, Monster Sungai Yang Mematikan

Kasus-kasus itu memicu Jeremy Wade, seorang ahli biolog asal Inggris untuk mengamati apa yang ada di dalam sungai tersebut. Pasalnya, serangan hanya terjadi di kawasan tertentu, sepanjang sekitar 6 sampai 8 kilometer. Kawasan itu, menurut keterangan penduduk, merupakan kawasan di mana mereka biasa melarungkan jasad saudara-saudara mereka yang telah meninggal setelah dibakar.

Setelah meneliti menggunakan alat pengukur kedalaman, ia memastikan tidak ada lubang ditemukan, artinya serangan tidak diakibatkan oleh turbulensi yang terjadi di air.

Benar saja, tak lama setelah itu, dari jarak sekitar 1 kilometer dari serangan terakhir, seekor kerbau yang sedang minum di sungai yang hanya memiliki kedalaman 1 meter diserang dan diseret oleh sesuatu dari dalam air.

Goonch Catfish, Monster Sungai Yang Mematikan

Dalam penelitian bawah air, Wade menemukan goonch catfish, serupa ikan lele yang memiliki panjang satu meter. Namun ikan itu gagal ditangkap. Penelitian lebih lanjut, diketahui bahwa terdapat beberapa kelompok goonch dan enam di antaranya berukuran sebesar manusia.

Goonch Catfish, Monster Sungai Yang Mematikan
Goonch Catfish, Monster Sungai Yang Mematikan

Setelah gagal menangkap ikan itu dengan alat pemancing, Wade coba memancing pemunculan ikan itu menggunakan seonggok kayu bakar dan disusun seolah-olah merupakan bekas kremasi jasad orang meninggal. Ternyata sukses.

Goonch Catfish, Monster Sungai Yang Mematikan

Seekor goonch catfish berukuran panjang 1,8 meter dan berbobot 75,5 kilogram, atau 3 kali lebih berat dibanding goonch lainnya berhasil ditangkap. Ikan ini diperkirakan cukup besar dan kuat untuk memakan seorang anak kecil, namun tak cukup besar untuk menyeret dan menyantap seekor kerbau.

Goonch Catfish, Monster Sungai Yang Mematikan

Dari keterangan penduduk, Wade menyimpulkan bahwa “ikan lele” atau goonch catfish itu telah bermutasi menjadi berselera terhadap daging manusia. Ikan juga tumbuh menjadi raksasa setelah terus mengonsumsi daging setengah matang sisa-sisa jasad manusia yang dilarungkan dan tenggelam di dasar sungai.

Ilmuwan Brazil Temukan Sungai di Bawah Sungai Amazon

type=’html’>Ilmuwan Brazil menemukan eksistensi sungai bawah tanah yang mengalir sepanjang 6.000 kilometer. Uniknya, sungai ini mengalir di bawah Sungai Amazon.

Keberadaan sungai itu ditemukan berkat proyek penelitian yang dilakukan di 241 sumur milik perusahaan minyak, Petrobras, yang menggali wilayah Amazon pada tahun 1970-an hingga 1980-an, untuk mencari potensi kandungan minyak mentah.

Sungai Amazon via satelit ( NASA)

Sungai bawah tanah itu mengalir di kedalaman 4.000 meter dengan aliran yang yang sama dengan Amazon. Jika dikalkulasi, sungai bawah tanah itu mengalirkan 3.000 meter kubik air tiap detiknya.

Atau dengan kata lain, aliran sungai itu hanya 3 persen dari aliran Amazon yang berhulu di hutan Peru dan bermuara ke Atlantik di utara Brazil. Dengan panjang 6.800 kilometer, Amazon dinobatkan menjadi sungai terpanjang di dunia.

Para ilmuwan menamakan sungai itu, Hamza, sebagai bentuk penghormatan bagi ilmuwan asal India, Valiya Mannathal Hamza, yang mendedikasikan hidupnya mempelajari wilayah Amazon selama lebih dari empat dekade, sekaligus ketua tim peneliti.

Indikasi keberadaan sungai tersebut dipresentasikan sendiri oleh Valiya Hamza dari Observatorium Nasional, Brazil. Menurut dia, “informasi termal” yang dimiliki Petrobas memungkinkan tim peneliti mengidentifikasi pergerakan sungai bawah tanah.

Temuan itu dipresentasikan minggu lalu di Rio de Janeiro dalam sebuah pertemuan yang dihelat Brazilian Geophysical Society.

Hamza menambahkan, sungai bawah tanah mengalir dari barat ke timur berarti, hutan hujan Amazon punya dia sistem drainase, Sungai Amazon dan Sungai Hamza.

Hamzah menekankan bahwa hasil studi ini baru kesimpulan awal. Timnya berharap akan mengkonfirmasi aliran bawah tanah pada akhir 2014. Namun, dia menolak berkomentar soal dampak ekonomi dan lingkungan dari sungai bawah tanah di hutan hujan Amazon.

( Sumber: http://teknologi.vivanews.com/news/read/243420-sungai-mengalir-tepat-di-bawah-sungai-amazon )

Fenomena Luar Biasa Pasang Surut Sungai Qiantang China ( Full Pic )

type=’html’>

Koranmaya 23 Oct, 2011


Source: http://www.shevenone.info/2011/10/fenomena-luar-biasa-pasang-surut-sungai.html

Kota Misterius Muncul di Atas Sungai China !

type=’html’>

Pemandangan menakjubkan muncul di China pada awal bulan ini. Sebuah kota misterius muncul di atas Sungai Xin’an.

Kota misterius itu muncul di langit Cina Timur setelah hujan deras. Saat itu, kondisi lembab menutupi Sungai Xin’an.

Kota misterius itu terlihat seperti pemandangan kota lainnya. Tampak gedung pencakar langit, beberapa gunung dan sedikit pohon-pohon.

Pemandangan itu terlihat oleh warga di Kota Huanshan. Muncul beragam spekulasi dari mereka, diantaranya menganggap tempat itu merupakan ‘pusara’ dari ‘peradaban yang hilang’.

“Ini benar-benar luar biasa, terlihat seperti sebuah adegan di film, di negeri dongeng,” kata seorang warga kepada saluran berita Inggris, ITN sebagaimana dimuat laman foxnews.com, 27 Juni 2011.

Namun, semua itu ternyata tak nyata alias fatamorgana. Para ilmuwan telah membatalkan teori ‘pusara’ dan ‘peradaban yang hilang’.

Para ahli percaya pemandangan itu mungkin hanya sebuah fatamorgana yang disebabkan ketika kelembaban di udara yang menjadi lebih hangat dari suhu air di bawahnya.

Ketika sinar matahari melewati udara dingin ke udara hangat, cahaya itu dibiaskan atau belokan. Sehingga menciptakan sebuah bayangan di udara yang terlihat mirip dengan sebuah bayangan di air.

Refleksi itu merupakan pemandangan umum bagi banyak wisatawan yang berkunjung di daerah basah.

Kisah Nelayan Pemburu Mayat di Sungai Kuning

type=’html’>[Image: Nelayan-Pemburu-Mayat.jpg]

Pekerjaan yang dilakukan seorang nelayan di China ini barangkali paling aneh di dunia. Wei Xinpeng, nama pria itu, biasa berburu mayat di Sungai Kuning. Wei, seperti diungkapkan oleh laman BBC, kerap memulai harinya dengan nongkrong sambil merokok di tepi sungai. Matanya mengamati air Sungai Kuning yang keruh. Dia yakin, sungai itu pasti selalu menyimpan mayat manusia, entah korban kecelakaan, dibunuh, atau pun bunuh diri.

Lelaki 55 tahun itu seperti hapal aliran sungai, dan dia jeli melihat ke mana arus membawa mayat-mayat yang tenggelam di sungai itu. Biasanya, Wei mendayung perahunya ke dekat satu jembatan kecil di hilir. Di sana, biasanya mayat “parkir” sebentar, karena tersangkut di celah besi jembatan. Dalam tujuh tahun terakhir, mencari mayat kini adalah kegiatan rutin Wei. Dia menjual temuannya itu ke kerabat mayat bersangkutan. “Saya memberi penghargaan kepada si mayat,” ujarnya seperti dilansir dari laman BBC, Senin 22 November 2010.

Wei mengaku telah mengumpulkan sebanyak 500 mayat dari dasar sungai. “Orang-orang ini mati dengan cara mengenaskan,” ujar Wei. Dia mengumpulkan mayat temuannya itu di satu teluk kecil yang tak tersentuh arus. Mayat-mayat beragam bentuk itu ditumpuk di sana. BBC melaporkan, di teluk kecil itu ada empat mayat yang tubuhnya telah kaku, dengan kepala tertelungkup ke bawah. Setiap kali berhasil menangguk mayat, Wei mengumumkannya di koran lokal. Dia menyebut ciri fisik mayat itu, sehingga kerabat yang bersangkutan dapat segera mengenalinya. Biasanya, kerabat si mayat akan menelepon Wei, dan meminta diantarkan ke tempat dia menyimpannya.

Wei membawa kerabat si mayat ke teluk kecil itu. Dia memasang sedikit tarif untuk jasa membalikkan tubuh si mayat agar wajahnya dapat terlihat. Jika kerabat mayat ingin membawanya pulang, maka mereka harus membayar uang tebusan sebesar lebih dari US$500, atau sekitar Rp. 4,4 juta. Wei mengatakan, selama ini dia telah menjual sekitar 40 mayat. Tapi terkadang, keluarga mayat enggan membayar, dan pulang tanpa membawa jenazah yang ditemukan Wei. “Satu kali orang tua mencari anaknya. Mereka melihat sebentar, lalu pergi tanpa berkata apa-apa. Mereka tak membawanya pulang,” ujar Wei.

Jika sudah begini, Wei terpaksa harus menguburkan mayatnya secara pantas. Soalnya, pemerintah akan membiarkan mayat temuannya membusuk tanpa melakukan apapun. Wei mengatakan apa yang dia lakukan bukan semata-mata karena uang, tapi karena alasan lebih pribadi. Dia pun berkisah. Pekerjaan ini, kata Wei, bermula dari usahanya untuk mencari anaknya sendiri, yang tenggelam di Sungai Kuning. “Anak saya tenggelam di sungai ini dan saya tidak dapat menemukan mayatnya. Sangat menyakitkan. Itu sebabnya saya melakukan pekerjaan ini,” ujar Wei. Putra Wei sampai sekarang belum ditemukan.